TAUHID ASMA WA SHIFAT

Tauhid Asma Wa Sifat

A. Pendahuluan

Iman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah bagian dari rukun Iman kepada Allah, dimana beriman kepada Allah harus meliputi iman kepada Wujud Allah, RububiyahNya, UluhiyahNya dan Nama dan sifat-sifatnya. Beriman kepada nama dan sifat Allah memiliki kedudukan yang tinggi dan sangat penting dalam agama Islam. Seorang muslim tidak mungkin dapat beribadah dengan sempurna tanpa mengetahui nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’alaa.

Allah Jalla wa ‘Alaa berfirman

¬!urâä!$oÿôœF{$#4Óo_ó¡çtø:$#çnqãã÷Š$$sù$pkÍ5(…….ÇÊÑÉÈ

180. hanya milik Allah asmaa-ul husna, Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu. (Q.S. AL-A’raf : 180)

B. Pengertian Tauhid Asma Wa Sifat

Pengertian Asma dan Sifat Allah

Secara bahasa Kata “اسماء” adalah bentuk jama dari kata “اسم”, yang artinya ‘nama’. “اسماء الله” berarti ‘nama-nama Allah’. اسماء الحسنى berarti nama-nama yang baik dan terpuji. Sehingga istilah “asma’ul husna” bagi Allah maksudnya adalah nama-nama yang indah, baik dan terpuji yang menjadi milik Allah. Misalnya: Ar Rahman, Ar Rahim, Al Malik, Al Ghafur, dan lain-lain.

Sedangkan kata “صفة” dalam bahasa Arab berbeda dengan “sifat” dalam bahasa indonesia. Kata “صفة” dalam bahasa arab mencakup segala informasi yang melekat pada suatu yang wujud. Sehingga “sifat bagi benda” dalam bahasa arab mencakup sifat benda itu sendiri, seperti besar  kecilnya, tinggi rendahnya, warnanya, keelokannya, dan lain-lain. Juga mencakup apa yang dilakukannya, apa saja yang dimilikinya, keadaan, gerakan, dan informasi lainnya yang ada pada benda tersebut.[1]

Dengan demikian, kata “صفة الله” mencakup perbuatan, kekuasaan, dan apa saja melekat pada Dzat Allah, dan segala informasi tentang Allah. Karena itu, sering kita dengar ungkapan ulama, bahwa diantara sifat Allah adalah Allah memiliki tangan yang sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya, Allah memiliki kaki yang sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya, Allah turun ke langit dunia, Allah bersemayam di Arsy, Allah tertawa, Allah murka, Allah berbicara, dan lain-lain. Dan sekali lagi, sifat Allah tidak hanya berhubungan dengan kemurahan-Nya, keindahan-Nya, keagungan-Nya, dan lain-lain.

Pengertian Tauhid Asma wa Sifat

Secara istilah syariat, tauhid asma dan sifat adalah pengakuan seorang hamba tentang nama dan sifat Allah, yang telah Dia tetapkan bagiNya dalam kitab-Nya ataupun dalam sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta mengimani maknanya dan hukum-hukumnya tanpa Tahrif, ta’thil, takyif, dan tamtsil/tasybih.[2]

 

1. Tahrif (menyimpangkan makna)

yaitu mengubah atau mengganti makna yang ada pada nama dan sifat Allah, tanpa dalil.
Misalnya: Sifat Allah marah, diganti maknanya menjadi keinginan untuk menghukum, sifat  Allah istiwa (bersemayam), diselewengkan menjadi istaula (menguasai), Tangan Allah, disimpangkan maknanya menjadi kekuasaan dan nikmat Allah.

2. Ta’thil (menolak)

Yaitu menolak penetapan nama dan sifat Allah yang disebutkan dalam dalil. Baik secara keseluruhan maupun hanya sebagian.

Contoh menolak secara keseluruhan adalah sikap sekte Jahmiyah, yang tidak mau menetapkan nama maupun sifat untuk Allah. Mereka menganggap bahwa siapa yang  menetapkan nama dan sifat untuk Allah berarti dia musyrik.

Contok menolak sebagian adalah sikap yang dilakukan sekte Asy’ariyah atau Asya’irah, yang membatasi sifat Allah hanya bebeberapa sifat saja dan menolak sifat lainnya. Atau menetapkan sebagian nama Allah dan menolak nama lainnya.

3. Takyif (membahas bagaimana bentuk dan hakikat nama dan sifat Allah)
yaitu menggambarkan bagaimanakah hakikat sifat dan nama yang dimiliki oleh Allah. Misalnya, Tangan Allah, digambarkan bentuknya bulat, panjangnya sekian, ada ruasnnya, dan lain-lain. Kita hanya wajib mengimani, namun dilarang untuk menggambarkannya.

4. Tamtsil/Tasybih (menyamakan Allah dengan makhluk-Nya)
Misalnya, berkeyakinan bahwa tangan Allah sama dengan tangan budi, Allah bersemayam di ‘arsy seperti joki naik kuda. Mahasuci Allah dari adanya makhluk yang serupadengan-Nya.
Allah berfirman,

}§øŠs9¾ÏmÎ=÷WÏJx.Öäï†x«(uqèdurßìŠÏJ¡¡9$#玍ÅÁt7ø9$#ÇÊÊÈ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (Qs. Asy-Syuura: 11)

C. Pembagian Asma wa Shifat Allah Jalla wa ‘Alaa

Sifat-sifat Allah terbagi dua bagian :

1. Tsubutiyah

Sifat Tsubutiya adalah sifat yang Allah tetapkan sendiri untukNya baik yang disebutkan dalam Al-Qur’an atau yang ditetapkan oleh Nabi Shallallahu alaihi wasallam, yang semuanya adalah sifat yang sempurna dari seluruh aspeknya. Seperti sifat Al-Hayat (Maha Hidup), Al-Ilmu (Mengetahui) Al-Qudrah (Berkuasa) Istiwa di atas arsy, turun ke langit dunia, wajah, dua tangan, sifat-sifat ini wajib ditetapkan untuk Allah dengan dalil Naqly maupun Aqly.

Adapun dalil naqly adalah firman Allah Q.S. An-Nisa : 136

$pkš‰r’¯»tƒtûïÏ%©!$#(#þqãYtB#uä(#qãYÏB#uä«!$$Î/¾Ï&Î!qߙu‘urÉ=»tFÅ3ø9$#ur“Ï%©!$#tA¨“tR4’n?tã¾Ï&Î!qߙu‘É=»tFÅ6ø9$#urü“Ï%©!$#tAt“Rr&`ÏBã@ö6s%4`tBuröàÿõ3tƒ«!$$Î/¾ÏmÏFs3Í´¯»n=tBur¾ÏmÎ7çFä.ur¾Ï&Î#ߙâ‘urÏQöqu‹ø9$#ur̍ÅzFy$#ô‰s)sù¨@|ÊKx»n=|Ê#´‰‹Ïèt/ÇÊÌÏÈ  

136. Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, Maka Sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.

 

Perintah beriman kepada Allah dalam ayat ini meliputi semua rukun iman kepada Allah yaitu iman kepada WujudNya, RububiyahNya, UluhiyahNya serta beriman kepada Asma dan Sifat-sifatNya. Dan perintah beriman kepada kitab Allah pada ayat ini mengandung perintah untuk beriman kepada segala berita yang datang dari Nabi Shallallahu alaihi wasallam yang shahih termasuk penetapan beliau terhadap asma dan sifat-sifat Allah.

Adapun dalil Aqlynya adalah bahwa Allah Ta’alaa telah mengabarkan kepada kita tentang DzatNya, namaNya dan sifat-sifatNya, dan jelas Allah lebih tahu tentang diriNya dari pada selainNya. Dialah Allah Ta’alaa yang ucapanNya paling benar dan paling baik, maka nama-nama dan sifat-sifatNya yang telah ditetapkanNya harus kita terima tanpa keraguan sedikitpun.

Demikian juga kita wajib menerima tanpa ragu dengan berita yang dibawa oleh Nabi Shallallahu alahi wasallam tentang nama dan sifat Allah ta’alaa jika berita itu shahih dari beliau Shallallahu alahi wasallam, karena beliau adalah manusia yang paling tahu dan paling kenal kepada Allah Jalla Jalaaluh.

Sifat tsubutiyah merupakan sifat terpuji dan sempurna bagi Allah, maka semakin banyak sifat itu maka ia menunjukan akan Maha Sempurnanya yang disifati yaitu Allah ta’alaa. Karenanya sifat tusbutiyah ini lebih banyak Allah dan RasulNya sebutkan dibanding dengan sifat salbiyah.[3]

Sifat Tsubutiyah terbagi kepada dua bagian

a. Sifat Dzatiyah

Sifat dzatiyah adalah sifat yang melekat pada dzat Allah yang senantiasa seperti itu dan tidak akan berubah. Seperti sifat Al-Ilmu, Al-Qudrah, As-Sam’u, Al-Bashar, Al-Izzah, Al-Hikmah, Al-‘Uluw, Al-Azhomah, dan termasuk sifat dzatiyah adalah sifat Khobariyah seperti dua tangan, wajah dua mata dll.

b. Sifat Fi’liyah

            Sifat fi’liyah adalah sifat yang berhubungan dengn kehendak Allah, jika Ia berkehendak maka Ia kerjakan jika tidak maka tidak ia kerjakan. sepertiTurun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, istiwa di atas Arsy, berkata-kata dll.

Terkadang sifat dzatiyah juga sifat fi’liyah seperti sifat Al-Kalam, disatu sisi Allah bersifat kalam tapi disi lain Allah berkata jika Ia berkehendak saja.[4]

Seperti firman Allah dalam Q.S. Yaasin : 82

!$yJ¯RÎ)ÿ¼çnãøBr&!#sŒÎ)yŠ#u‘r&$º«ø‹x©br&tAqà)tƒ¼çms9`ä.ãbqä3uŠsùÇÑËÈ

82. Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” Maka terjadilah ia.

2. Salbiyah

Adapun sifat Salbiyah adalah sifat yang diNafikan Allah untukNya sendiri baik yang disebutkan dalam Al-Qur’an atau yang ditetapkan oleh Nabi Shallallahu alaihi wasallam, semua sifat salbiyah adalah sifat kekurangan yang mustahil dan tidak mungkin ada pada Allah Ta’alaa. Seperti sifat Al-Maut (mati), An-Naum (tidur), Al-Jahl (bodoh), An-Nisyan (lupa) Al-Ajzu (lemah) At-Ta’b (lelah) dll.

Sifat-sifat kelemahan ini wajib ditiadakan pada Allah ta’alaa, bersamaan dengan itu wajib ditetapkan sifat-sifat yang berlawanan dengan sifat salbiyah ini, sehingga lawanan dari sifat salbiyah adalah sifat tsubutiyah dan lawanan dari sifat tsubutiyah adalah sfiat salbiyah.

Contohnya adalah firman Allah Q.S. Al-Furqon : 58

ö@ž2uqs?ur’n?tãÇc‘yÛø9$#“Ï%©!$#ŸwßNqßJtƒ…..ÇÎÑÈ

58. dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati,

Menafikan sifat Al-Maut bagi Allah dalam ayat ini, sekaligus penetapan sifat Allah Al-Hayat yang artinya Allah Maha Hidup.

Atau Q.S.Al-Kahfi : 49

وَلا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَداً

Ayat ini menafikan sifat Az-Zhulm (zhalim) bagi Allah, pada saat yang sama ia menetapkan akan kesempurnaan sifat Al-Adl (Maha Adil) bagi Allah.[5]

Sifat Salbiyah pada umumnya disebutkan untuk menjelaskan beberpa hal, yaitu :

a. Menjelaskan keumuman sifat kesempurnaan Allah ta’alaa

Contoh firman Allah ta’alaa dalam Q.S. Asy-Syuro : 11 dan Q.S. Al-Ikhlas : 4

{لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ} ، {وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدٌ}

Dua sifat salbiyah dalam ayat ini yaitu “al-Mitslu” dan “Al-Kufu” menunjukan akan kesempurnaan Allah bahwa Allah tidak serupa dengan apapun dan tidak ada apapun yang serupa dan sebanding denganNya. Dari dua sifat salbiyah ini juga harus ditetapkan bahwa Allah Maha Esa dan Maha Kuasa dan Maha Mampu melakukan apapun tanpa bantuan makhlukNya.

 

b. Bantahan terhadap anggapan bahwa Allah ta’alaa Allah memiliki anak

Seperti firman Allah ta’alaa Q.S. Maryam : 91 – 92

br&(#öqtãyŠÇ`»uH÷q§=Ï9#V$s!urÇÒÊÈ   $tBurÓÈöt7.^tƒÇ`»uH÷q§=Ï9br&x‹Ï‚­Gtƒ#µ$s!urÇÒËÈ  

91. karena mereka menda’wakan Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak.

92. dan tidak layak bagi Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.

Dalam ayat ini, kaum kuffar menuduh Allah memiliki sifat seperti makhluk yaitu melahirkan anak, dan Allah membantah tuduhan mereka baik dalam ayat ini maupun ayat-ayat lainnya, dan bantahan yang tegas dan lengkap tentang tuduhan ini Allah sampaikan dalam satu surat tersendiri yaitu surat Al-Ikhlas.

Sifat “Yalid” (melahirkan) dan “Yulad” dilahirkan adalah dua sifat Salbiyah atau sifat mustahil bagi Allah.

c. Menolak tuduhan dusta terhadap Allah bahwa Allah memiliki kekurangan dalam kesempurnaanNya pada hal-hal tertentu.

Contohnya dalam firman Allah Q.S. Ad-Dukhan : 38 dan Q.S. Qof : 38

$tBur$oYø)n=yzÏNºuq»yJ¡¡9$#uÚö‘F{$#ur$tBur$yJåks]÷t/šúüÎ6Ïè»s9ÇÌÑÈ

38. dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main.

 

ô‰s)s9ur$oYø)n=yzÏNºuq»yJ¡¡9$#uÚö‘F{$#ur$tBur$yJßguZ÷t/’ÎûÏp­Gř5Q$­ƒr&$tBur$uZ¡¡tB`ÏB5>qäó—9ÇÌÑÈ  

38. dan Sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya

dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan.

 

Dalam dua ayat ini, Allah membantah tuduhan kaum kuffar tentang penciptaan langit dan bumi, tuduhan pertama Allah tidak serius dalam menciptakan langit dan bumi dan menciptakannya dengan main-main.

Dan tuduhan kedua mereka menuduh bahwa Allah letih dan lelah ketika menciptakan langit, bumi dan segala isinya, namun Allah membantah tuduhan mereka dengan menyatakan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi tidak main-main dan Allah tidak merasa letih dan lelah dalam mencitpakan keduanya dan segala isinya. Maha suci dan tinggi Allah dari segala sifat kekurangan.[6]

 

 

 

D. Cara Menetapkan Asma dan Sifat

Seorang mu’min mengimani semua nama dan sifat yang telah ditetapkan Allah Jalla wa ‘Alaa untukNya dan apa saja yang telah ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tanpa tahrif (mengubah), ta’thil (menolak), takyif dan tamsil/tasybih (menyerupai). [7]

Berikut beberapa kaidah penting yang ditetapkan oleh para ulama, terkait nama dan sifat Allah:

1. Mengimani segala nama dan sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Alquran dan sunnah (hadits-hadits sahih).

Artinya, kita tidak membedakan dalam mengimani segala ayat yang ada dalam Alquran, baik itu mengenai hukum, sifat-sifat Allah, berita, ancaman dan lain sebagainya. Sehingga tidaklah tepat jika seseorang kemudian hanya mengimani ayat-ayat hukum karena dapat dicerna oleh akal sedangkan mengenai nama dan sifat Allah, harus diselewengkan maknanya karena tidak sesuai dengan jangkauan akal mereka.

Allah Jalla wa ‘Alaa berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah : 85

tbqãYÏB÷sçGsùr&ÇÙ÷èt7Î/É=»tGÅ3ø9$#šcrãàÿõ3s?ur<Ù÷èt7Î/4$yJsùâä!#t“y_`tBã@yèøÿtƒšÏ9ºsŒöNà6YÏBžwÎ)ӓ÷“Åz’ÎûÍo4quŠysø9$#$u‹÷R‘‰9$#(tPöqtƒurÏpyJ»uŠÉ)ø9$#tbr–Štãƒ#’n<Î)Ïd‰x©r&É>#x‹yèø9$#3$tBurª!$#@@Ïÿ»tóÎ/$£Jtãtbqè=yJ÷ès?ÇÑÎÈ  

“… Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (Qs. Al-Baqarah: 85)

Begitu pula dalam mengimani hadits-hadits yang sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hendaknya kita tidak membedakan apakah itu hadits mutawatir ataupun hadits ahad, karena jika itu sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ia wajib diimani walaupun akal kita tidak dapat memahaminya.

 

“Dari Ubaidillah bin Abi Rafi’ dari ayahnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لَا أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ مُتَّكِئًا عَلَى أَرِيكَتِهِ، يَأْتِيهِ الْأَمْرُ مِمَّا أَمَرْتُ بِهِ، أَوْ نَهَيْتُ عَنْهُ، فَيَقُولُ: لَا أَدْرِي، مَا وَجَدْنَا فِي كِتَابِ اللَّهِ اتَّبَعْنَاهُ “

“Segera saja ada seorang yang duduk di atas sofanya lalu disampaikan kepadanya sebuah hadits dariku baik sesuatu yang aku perintahkan atau sesuatu yang aku larang maka ia berkata, ‘Kami tidak tahu, kami hanya mengikuti apa yang kami dapatkan dalam kitab Allah.’” (HR. Ibnu Majah dishahihkan oleh Al Albani)[8]

2. Menyucikan Allah dari menyerupai makhluk dalam segala sifat-sifat-Nya.

Ketika kita mengakui segala nama dan sifat yang Allah tetapkan, seperti Allah maha melihat, Allah tertawa, betis Allah, tangan Allah, maka kita tidak diperbolehkan menerupakan sifat-sifat tersebut dengan sifat makhluk.

Sayangnya, hal inilah yang sering terjadi pada sekelompok orang, dan hal ini pulalah yang memicu penyimpangan yang terjadi pada tauhid asma wa shifat. Kesalahan yang berbuah kesalahan.

3. Menutup keinginan untuk mengetahui bentuk hakikat sifat-sifat Allah Ta’alaa.[9]

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, bahwa salah satu bentuk penyimpangan dalam tauhid asma wa shifat adalah menanyakan bagaimana bentuk dan hakikat sifat-sifat Allah. Dan hal ini tidak mungkin dapat kita ketahui karena Allah dan Rasul-Nya tidak menjelaskan hal tersebut. Sebagai contoh, seseorang tidak dapat menanyakan kaifiat (bagaimananya) sifat tertawa Allah, atau bentuk tangan Allah, atau bagaimanakah wajah Allah.

Yang perlu kita imani adalah Allah memiliki sifat yang bermacam-macam dan Allah maha sempurna dengan segala sifat yang dimiliki-Nya.Dan untuk mengimani sesuatu tidaklah mengharuskan kita harus mengetahui hakikat zat tersebut.

 

Termasuk larangan dalam hal ini adalah membayangkan bagaimana bentuk dan hakikat sifat Allah, karena akan membuka pada penyimpangan lainnya, yaitu penyerupaan dengan makhluk. Yang perlu diluruskan adalah, larangan untuk mengetahui bentuk dan hakikat dari sifat-sifat Allah bukan berarti meniadakan adanya bentuk dan hakikat dari sifat-sifat Allah. hakikat sifat Allah tetaplah ada dan hanya Allah-lah yang mengetahuinya.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Al-Qur’an Al-Majid
  2. Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, Tahqiq : Muhammad Fuad Abdul Baqi, Peneribit : Daar Ihya al-Kutub Al-Arabiyah, Aleppo, Suriah, t.t.
  3. Muhammad bin Khalifah bin Ali At-Tamimi, Mu’taqidu Ahlissunnah wal jama’ah fi al-asma al-husna, Penerbit : Adhwa; as-Salaf, Riyadh Saudi Arabia, cet. I, th. 1419 H
  4. Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Al-Qawa’id Al-Mutsla fii sifatillah wa asmaihi al husna, Penerbit : Jami’ah Al-Islamiyah, Madinah Al-Munjawwaroh, Cet. III, th. 1421 H
  5. Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Syarh Tsalatsah Al-Ushul, Penerbit : Daar as-Syria li An-Nasyr, cet. IV, th. 1424 H.
  6. Sa’ad bin Abdurrahman Niddan, Mafhum Al-Asma wa Shifat, Penerbit : Majalah Jami’ah Al-Islamiyah, Madinah Munawwaroh, t.t.
  7. Utsman Jum’ah Dhamiriyah, Madkhal Lidirosat Al-Aqidah Al-Islamiyah, Penerbit : Maktabah as-sawadie li at-tauzi’, Jeddah, Saudi Arabia, cet. II, th. 1417 H.

 

 

 

 

DAFTAR ISI

Tauhid Asma Wa Sifat1

A. Pendahuluan. 1

B. Pengertian Tauhid Asma Wa Sifat. 1

Pengertian Asma dan Sifat Allah. 1

Pengertian Tauhid Asma wa Sifat2

C. Pembagian Asma wa Shifat Allah Jalla wa ‘Alaa. 3

1. Tsubutiyah. 3

a. Sifat Dzatiyah. 4

b. Sifat Fi’liyah. 4

2. Salbiyah. 5

a. Menjelaskan keumuman sifat kesempurnaan Allah ta’alaa. 5

b. Bantahan terhadap anggapan bahwa Allah ta’alaa Allah memiliki anak. 6

c. Menolak tuduhan dusta terhadap Allah bahwa Allah memiliki kekurangan dalam kesempurnaanNya pada hal-hal tertentu.6

D. Cara Menetapkan Asma dan Sifat. 7

1. Mengimani segala nama dan sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Alquran dan sunnah (hadits-hadits sahih).7

2. Menyucikan Allah dari menyerupai makhluk dalam segala sifat-sifat-Nya.8

3. Menutup keinginan untuk mengetahui bentuk hakikat sifat-sifat Allah Ta’alaa.8

DAFTAR PUSTAKA.. 9

 

 

 

[1] Sa’ad bin Abdurrahman Niddan, Mafhum Al-Asma wa Shifat, juz 45, h. 79

[2] Muhammad bin Khlaifah At-Tamimi, Mu’taqidu Ahlissunnah wal jama’ah fi al-asma al-husna, juz 1, h. 29

[3] Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Al-Qawa’id Al-Mutsla fii sifatillah wa asmaihi al husna, juz 1, h. 21-23

[4] Ibid, juz 1, h. 25

[5] Ibnu Utsaimin, Al-Qawa’id Al-Mutsla, juz 1, h. 23

[6] Ibnu Utsaimin, Al-Qawa’id Al-Mutsla, juz 1, h. 23

[7] Utsman Jum’ah Dhamiriyah, Madkhal Lidirosat Al-Aqidah Al-Islamiyah, h. 240

[8] Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, Juz. 1, h. 6, no. 13

[9] Muhammad bin Khalifah at-Tamimi, Mu’taqidu Ahli sunnah, juz 1, h. 71

About Anshori Mujahid

Pemuda yang bercita-cita menjadi bagian dari syuhada, pembela islam dari fitnah kaum kuffar dan munafiq, lahir bertepatan dengan sehari sebelum runtuhnya khilafah Utsmaniyah, khilafah islam terakhir.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s