TEMAN BERGAUL

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Asma’ul Husna tidak hanya 99, benarkah ????

BAB I

PENDAHULUAN

Di antara kaum muslimin saat ini, khususnya di negara kita, ada yang berkeyakinan bahwa nama dan sifat Allah subahanhu wa ta’ala terbatas dengan bilangan tertentu. Di antara mereka ada yang berkeyakinan bahwa jumlah nama Allah subhanahu wa ta’ala hanya ada 99 nama, ada yang berkata 20 nama dan ada juga menetapkan 23 nama. Benarkah keyakinan ini?

Syubhat di Kalangan Kaum Muslimin tentang Adanya Batasan Bagi Nama dan Sifat Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagian kaum muslimin membatasi nama-nama Allah dengan bilangan 99, dengan berdalil dengan hadist Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

وقال صلى الله عليه وسلم: “إن لله تسعة وتسعين اسمًا, من أحصاها دخل الجنة

 “Sesungguhnya Allah memiliki 99 Nama -seratus kurang satu- yang apabila seseorang menjaganya niscaya dia masuk Surga”[1]

Hadist di atas adalah hadist yang shahih dengan kesepakatan para ‘ulama ahli hadist. Akan tetapi menjadikan hadist tersebut sebagai dalil untuk membatasi nama-nama Allah hanya berjumlah 99 nama, adalah suatu kekeliruan.

Ibnu Hazm rahimahullahwa ghofarallahulahu pun salah dalam memahami hadits ini. Beliau berpendapat bahwa adanya batasan bilangan untuk nama-nama Allah subhanahu wa ta’ala. Beliau berkata, ”Seandainya Allah subhanaahu wa ta’ala memiliki nama selain 99 nama tersebut, maka perkataan Rasulullah “seratus kurang satu” menjadi perkataan yang sia-sia (tidak bermakna).[2]

Pendapat Ibnu Hazm ini diselelisihi oleh pendapat jumhur ‘ulama. Jumhur ‘ulama berpendapat bahwa tidak adanya batasan bagi nama-nama Allah subhanaahu wa ta’ala. Mereka memahami bahwa pembatasan yang disebutkan dalam hadist Abu Hurairah adalah berkaitan dengan janji yang diberikan bagi orang yang menjaga nama-nama tersebut.

Makalah dalam tugas makalah kali ini, tugas saya adalah berusaha semaksimal mungkin untuk menjelaskan hadits Shahih tentang 99 nama-nama Allah ta’alaa.

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Matan Hadits

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ } أَحْصَيْنَاهُ{ حَفِظْنَاهُ

Dari Abu Hurairah, Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu, siapa yang meng-ihsha’nya, maka ia masuk surga.” Dan makna meng-ihsha’ adalah menjaganya: ‘Ahshainaa (Kami menjaganya)

  1. Takhrij Hadits

Hadits ini disepakati keshahihannya oleh para muhadditsin, hadits ini diriwayatkan oleh :

  1. Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari dalam Shahihnya, Kitab Tauhid, Bab Allah memiliki 99 nama, no. 7392,[3],dan Kitab Asy-Syurut, no. 2736,[4] ,
  2. Imam Muslim bin Al-Hajjaj dalam Shahih Muslim, Kitab Kitab Dzikr wa du’a wal istigfar, bab nama-nama Allah dan keutamaan menghitungnya, no. 2677.[5]
  3. Abu Isa At-Tirmidzi, dalam Sunannya dalam Ad-Da’awat,no. 3506& 3508 [6]Dishahihkan oleh Al-Albani.
  4. Ibnu Majah, dalam Sunannya, Bab Asmaillah Azza Wa Jalla, no. 3860,[7] Dishahihkan oleh Al-Albani.
  5. Ahmad bin Hanbal, dalam Musnadnya, yaitu Musnad Abu Hurairah, no. 7622[8]

Lafzah hadits diatas adalah milik Al-Bukhari dalam Shahihnya, Kitab Tauhid, Bab Allah memiliki 99 nama, no, 7.392.

  1. Tentang Perawi

Perawi hadits ini adalah shahabat Nabi Shallallahu alaihi wasallam yang mulia, beliau lebih dikenal dengan Abu Hurairah. Imam Ibnu Hajar dalam Al-Ishobah mengutif perkataan Ibnu Ishaq tentang nama asli Abu Hurairoh. Nama beliau radhiyallahu anhu sebelum masuk Islam adalah Abdu Syams bin Sakhr, kemudian nabi menganti namanya menjadi Abdurrahman, dan kunyah beliau adalah Abu Hurairah karena ia biasa membawa kucing kecil dilengan bajunya.[9]

Abu Hurairah adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadist Nabi Shallallahu alaihi wassalam , ia meriwayatkan hadist sebanyak 5.374 hadist.Beliau memeluk Islam pada tahun 7 H, tahun terjadinya perang Khaibar. Allah Subhanahu wa ta’ala mengabulkan doa Rasulullah agar Abu Hurairah dianugrahi hapalan yang kuat. Ia memang paling banyak hapalannya diantara para sahabat lainnya, Ia wafat pada tahun 57 H.[10]

  1. Syarah (penjelasan) Hadits

Dalam hadits ini terdapat duamasalah pokok yang akan kami dibahas, yaitu :

  1. Jumlah Bilangan Nama-nama Allah
  2. Ma’na Ihsha’

Masalah pertama

Masalah pertama tentang jumlah bilangan nama Allah ta’alaa, apakah ia terbatas atau tidak. Dalam masalah pertama ini para ulama terbagi kepadadua pendapat,

Pendapat pertama menyatakan bahwa nama-nama Allah terbatas hanya 99 nama saja, sesuai dengan hadit shahih diatas. Pendapat ini dikemukakan oleh Ibnu Hazm dalam bukunya Al-Fashl fii Al-Milal. Apa yang dikatakan oleh Ibnu Hazm, tidak disetujui oleh para ulama umumnya. Bahkan sebagian mereka (seperti An-Nawawi) berpendapat bahwa para ulama sepakat bahwa nama-nama Allah Ta’ala tidak terbatas pada jumlah tersebut. Mereka menganggap bahwa pendapat Ibnu Hazm adalah menyimpang, tidak perlu diperhatikan.

Pendapat Kedua adalah pendapatnya Jumhur Ulama, jumhur berpendapat bahwa nama-nama Allah tidaklah terbatas.Dalil yang mereka kemukakan untuk menunjukkah bahwa Nama Allah tidak terbatas adalah :

 

 

  1. Dalil Pertama

Ibnul Qayim rahimahullah menjelaskan,

“Sesungguhnya nama-nama yang baik bagi Allah tidaklah dibatasi oleh batasan dan bilangan tertentu, karena sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala masih merahasiakan nama-nama-Nya yang ada dalam ilmu ghaib di sisi-Nya. Nama-nama tersebut tidak diketahui oleh malaikat yang terdekat dengan Allah sekalipun dan tidak diketahui oleh nabi yang diutus-Nya.”[11]

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam:

……..أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ ……..

“…Aku memohonkepada-Mu dengan perantara seluruh Nama yang dengannya Engkau namai Diri-Mu, Nama yang Engkau turunkan di dalam Kitab-Mu, Nama yang Engkau ajarkan kepada salah satu diantara makhluk-Mu dan juga Nama yang Engkau sembunyikan pengetahuannya dalam ilmu ghaib di sisi-Mu….[12]

Berdasarkan hadist tersebut, Ibnul Qayim rahimahullah menjelaskan, “Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan nama-nama-Nya menjadi tiga jenis.

Pertama, yaitu nama-nama yang Allah menamakan dirinya dengan nama tersebut dan Allah memberitahukan nama-nama tersebut kepada para malaikat yang dikehendaki-Nya. Nama jenis pertama ini tidak Allah kabarkan dalam Kitab-Nya.

Kedua, nama-nama yang dikabarkan oleh Allah kepada hamba-Nya dalam Kitab-Nya yang mulia. Nama-nama ini diketahui oleh para hamba-hamba-Nya.

ketiga, nama yang Allah bersendirian (dalam pengetahuan-Nya) tentang nama tersebut dalam ilmu ghaib di sisi-Nya, dan tidak ada satu pun dari hamba-Nya yang mengetahui nama-nama tersebut”.[13]

 

  1. Dalil Kedua

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda dalam hadist yang terkenal dengan hadist syafa’at,

……..وَيُلْهِمُنِي مَحَامِدَ أَحْمَدُهُ بِهَا لاَتَحْضُرُنِي الآنَ،فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ المَحَامِدِ ،وَأَخِرُّلَهُ سَاجِدًا……..

“….Akan diilhamkan kepadaku (pada hari kaimat), pujian-pujian (kepada Allah), yang pada saat ini aku tidak memuji dengan pujian tersebut. Aku akan memuji Allah dengan pujian-pujian tersebut, dalam keadaan aku bersungkur sujud kepada Allah,….”[14] 

Pujian kepada Allah ini adalah berupa pujian dengan nama dan sifat Allah subhanahu wa ta’ala. Hadist ini menunjukkan bahwa ketika hari kiamat, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam akan bersungkur sujud kepada Allah subhanahu wa ta’ala, di bawah ‘Arsy Allah subhanahu wa ta’ala. Kemudian Allah akan mengilhamkan kepada Rasulullah berbagai pujian berupa nama dan sifat-Nya yang belum pernah ada seorang pun yang memuji Allah dengan pujian tersebut. Artinya, Allah masih memiliki nama-nama selain yang Allah kabarkan dalam Al Qur’an Al Kariim. Pujian berupa nama-nama tersebut saat ini belum ada seorang hamba pun yang mengetahuinya, bahka Rasulullah pun tidak mengetahui nama-nama tersebut, dan Allah akan ilhamkan nama-nama tersebut kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam kelak pada hari kiamat.

Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim mengutip kesepatakan para ulama tentang hal teresbut. Dia berkata, “Para ulama sepakat bahwa hadits ini tidak membatasi nama-nama Allah Ta’ala. Akan tetapi, yang dimaksud dalam hadits ini adalah bahwa ke-99 nama tersebut bagi siapa yang ihsha terhadapnya akan masuk surga. Yang dimaksud adalah mengabarkan akan masuk surga bagi orang yang melakukan ihsha terhadapnya, bukan sekedar mengumpulkan nama-nama-Nya.”[15]

Masalah kedua

  1. Urgensi Ihsha’

Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan urgensi memahami Asmaul Husna, “Mengetahui nama-nama Allah dan menghafalnya adalah dasar dari segala ilmu. Siapa yang telah menghafal nama-nama-Nya dengan benar berarti ia telah memahami seluruh ilmu. Karena menghafal nama-nama-Nya merupakan dasar untuk dapat menghafal segala macam ma’lumat. Dan segala macam ilmu tersebut akan terwujud setelah memahami al-Asma’ al-Husna dan bertawassul dengannya.”[16]

Mengenal Asmaul Husna dengan sungguh-sungguh, menghafal, memahami maknanya kemudian berdoa dan beribadah kepada Allah dengannya  menjadi sebab penguat iman yang paling besar. Bahkan, mengenal asma’ dan sifat Allah merupakan dasar iman yang kepadanya keimanan akan kembali. Karenanya, apabila seorang bertambah ma’rifahnya terhadap asma’ dan sifat Allah, niscaya imannya bertambah dan keyakinanya kuat.

  1. Ma’na Ihsha’

Dalam masalah ini, para ulama berebeda pendapat, namun disini para perebedaan pendapat mereka bersifat tanawwu’i (variatif) bukan ta’adhudi (kontradiktif) sebagaimana pada masalah pertama.

Imam Ibnu Al-Jauzi mengatakan : “Ma’na Ihsha’ dalam hadits diatas ada 4 bentuk, yaitu

  1. Menghitungnya kemudian menghafalkannya
  2. Merealisasikan nama-nama itu dalam kehidupan nyata
  3. Mengetahui dan Memahami arti serta mengimaninya
  4. Mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an, karena dengan mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an sama dengan menyebut semua Nama-anam Allah yang ada didalamnya. [17]

Sementara Ibnu Al-Qoyyim mengatakan : “Makna Ihsha’ yang dapat menghantarkan kepada surga memiliki tiga tahapan:

Pertama, menghafal lafadz-lafadz dan jumlahnya.

Kedua, memahami makna dan maksud yang terkandung di dalamnya.

Ketiga, berdoa dengannya, baik doa yang berbetuk pujian dan ibadah ataupun meminta.[18]

الكتاب: فائدةجليلةفيقواعدالأسماءالحسنى

المؤلف:محمدبنأبيبكربنأيوببنسعدشمسالدينابنقيمالجوزية (المتوفى: 751هـ)

المحقق:عبدالرزاقبنعبدالمحسنالبدر

الناشر:غراس،الكويت

الطبعة:الأولى، 1424هـ/2003م

عددالأجزاء: 1

[ترقيمالكتابموافقللمطبوعوهومذيلبالحواشي]

[1] Ibid, no. 7392,

[2] Ibnu Hazm Al-Andalusy, Al-Fashl fi Al-Milal wa Al-Ahwa wa An-Nihal, juz 2, h. 126

[3] Al-Bukhari Shahih, Al-Bukhari, juz 9, h. 118

[4] Ibid, juz 3, h. 198

[5] Muslim bin Al-Hajjaj, Shahih Muslim, juz 4, h. 2062-2063

[6] Abu Isa At-Timizdi, Sunan At-Tirmidzi, juz 5, h. 530& 532

[7] Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, juz 2, h. 1269

[8] Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, juz 13, h. 61

[9] Ibnu Hajar Al-Asqolani, Al-Ishobah Fii Tamyiiz As-Shohabah, juz 7, h. 439

[10] Ibid,

[11] Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, Faaidatun Jaliilah, h. 38

[12] Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, juz 7, h. 341

[13] Opcit, h. 41

[14] Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, juz 9, h. 146, no. 7510

[15] Imam An-Nawawi, Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim Al-Hajjaj, juz 17, h. 5

[16] Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, Bada’i Al-Fawa’id, juz 1, h. 171

[17] Ibnu Jauzy, Kasyful Musykil min hadits Ash-Shahihain, juz 3, h. 435 – 436

[18]opcit, h. 164

Posted in Uncategorized | Leave a comment

TAUHID ASMA WA SHIFAT

Tauhid Asma Wa Sifat

A. Pendahuluan

Iman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah bagian dari rukun Iman kepada Allah, dimana beriman kepada Allah harus meliputi iman kepada Wujud Allah, RububiyahNya, UluhiyahNya dan Nama dan sifat-sifatnya. Beriman kepada nama dan sifat Allah memiliki kedudukan yang tinggi dan sangat penting dalam agama Islam. Seorang muslim tidak mungkin dapat beribadah dengan sempurna tanpa mengetahui nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’alaa.

Allah Jalla wa ‘Alaa berfirman

¬!urâä!$oÿôœF{$#4Óo_ó¡çtø:$#çnqãã÷Š$$sù$pkÍ5(…….ÇÊÑÉÈ

180. hanya milik Allah asmaa-ul husna, Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu. (Q.S. AL-A’raf : 180)

B. Pengertian Tauhid Asma Wa Sifat

Pengertian Asma dan Sifat Allah

Secara bahasa Kata “اسماء” adalah bentuk jama dari kata “اسم”, yang artinya ‘nama’. “اسماء الله” berarti ‘nama-nama Allah’. اسماء الحسنى berarti nama-nama yang baik dan terpuji. Sehingga istilah “asma’ul husna” bagi Allah maksudnya adalah nama-nama yang indah, baik dan terpuji yang menjadi milik Allah. Misalnya: Ar Rahman, Ar Rahim, Al Malik, Al Ghafur, dan lain-lain.

Sedangkan kata “صفة” dalam bahasa Arab berbeda dengan “sifat” dalam bahasa indonesia. Kata “صفة” dalam bahasa arab mencakup segala informasi yang melekat pada suatu yang wujud. Sehingga “sifat bagi benda” dalam bahasa arab mencakup sifat benda itu sendiri, seperti besar  kecilnya, tinggi rendahnya, warnanya, keelokannya, dan lain-lain. Juga mencakup apa yang dilakukannya, apa saja yang dimilikinya, keadaan, gerakan, dan informasi lainnya yang ada pada benda tersebut.[1]

Dengan demikian, kata “صفة الله” mencakup perbuatan, kekuasaan, dan apa saja melekat pada Dzat Allah, dan segala informasi tentang Allah. Karena itu, sering kita dengar ungkapan ulama, bahwa diantara sifat Allah adalah Allah memiliki tangan yang sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya, Allah memiliki kaki yang sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya, Allah turun ke langit dunia, Allah bersemayam di Arsy, Allah tertawa, Allah murka, Allah berbicara, dan lain-lain. Dan sekali lagi, sifat Allah tidak hanya berhubungan dengan kemurahan-Nya, keindahan-Nya, keagungan-Nya, dan lain-lain.

Pengertian Tauhid Asma wa Sifat

Secara istilah syariat, tauhid asma dan sifat adalah pengakuan seorang hamba tentang nama dan sifat Allah, yang telah Dia tetapkan bagiNya dalam kitab-Nya ataupun dalam sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta mengimani maknanya dan hukum-hukumnya tanpa Tahrif, ta’thil, takyif, dan tamtsil/tasybih.[2]

 

1. Tahrif (menyimpangkan makna)

yaitu mengubah atau mengganti makna yang ada pada nama dan sifat Allah, tanpa dalil.
Misalnya: Sifat Allah marah, diganti maknanya menjadi keinginan untuk menghukum, sifat  Allah istiwa (bersemayam), diselewengkan menjadi istaula (menguasai), Tangan Allah, disimpangkan maknanya menjadi kekuasaan dan nikmat Allah.

2. Ta’thil (menolak)

Yaitu menolak penetapan nama dan sifat Allah yang disebutkan dalam dalil. Baik secara keseluruhan maupun hanya sebagian.

Contoh menolak secara keseluruhan adalah sikap sekte Jahmiyah, yang tidak mau menetapkan nama maupun sifat untuk Allah. Mereka menganggap bahwa siapa yang  menetapkan nama dan sifat untuk Allah berarti dia musyrik.

Contok menolak sebagian adalah sikap yang dilakukan sekte Asy’ariyah atau Asya’irah, yang membatasi sifat Allah hanya bebeberapa sifat saja dan menolak sifat lainnya. Atau menetapkan sebagian nama Allah dan menolak nama lainnya.

3. Takyif (membahas bagaimana bentuk dan hakikat nama dan sifat Allah)
yaitu menggambarkan bagaimanakah hakikat sifat dan nama yang dimiliki oleh Allah. Misalnya, Tangan Allah, digambarkan bentuknya bulat, panjangnya sekian, ada ruasnnya, dan lain-lain. Kita hanya wajib mengimani, namun dilarang untuk menggambarkannya.

4. Tamtsil/Tasybih (menyamakan Allah dengan makhluk-Nya)
Misalnya, berkeyakinan bahwa tangan Allah sama dengan tangan budi, Allah bersemayam di ‘arsy seperti joki naik kuda. Mahasuci Allah dari adanya makhluk yang serupadengan-Nya.
Allah berfirman,

}§øŠs9¾ÏmÎ=÷WÏJx.Öäï†x«(uqèdurßìŠÏJ¡¡9$#玍ÅÁt7ø9$#ÇÊÊÈ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (Qs. Asy-Syuura: 11)

C. Pembagian Asma wa Shifat Allah Jalla wa ‘Alaa

Sifat-sifat Allah terbagi dua bagian :

1. Tsubutiyah

Sifat Tsubutiya adalah sifat yang Allah tetapkan sendiri untukNya baik yang disebutkan dalam Al-Qur’an atau yang ditetapkan oleh Nabi Shallallahu alaihi wasallam, yang semuanya adalah sifat yang sempurna dari seluruh aspeknya. Seperti sifat Al-Hayat (Maha Hidup), Al-Ilmu (Mengetahui) Al-Qudrah (Berkuasa) Istiwa di atas arsy, turun ke langit dunia, wajah, dua tangan, sifat-sifat ini wajib ditetapkan untuk Allah dengan dalil Naqly maupun Aqly.

Adapun dalil naqly adalah firman Allah Q.S. An-Nisa : 136

$pkš‰r’¯»tƒtûïÏ%©!$#(#þqãYtB#uä(#qãYÏB#uä«!$$Î/¾Ï&Î!qߙu‘urÉ=»tFÅ3ø9$#ur“Ï%©!$#tA¨“tR4’n?tã¾Ï&Î!qߙu‘É=»tFÅ6ø9$#urü“Ï%©!$#tAt“Rr&`ÏBã@ö6s%4`tBuröàÿõ3tƒ«!$$Î/¾ÏmÏFs3Í´¯»n=tBur¾ÏmÎ7çFä.ur¾Ï&Î#ߙâ‘urÏQöqu‹ø9$#ur̍ÅzFy$#ô‰s)sù¨@|ÊKx»n=|Ê#´‰‹Ïèt/ÇÊÌÏÈ  

136. Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, Maka Sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.

 

Perintah beriman kepada Allah dalam ayat ini meliputi semua rukun iman kepada Allah yaitu iman kepada WujudNya, RububiyahNya, UluhiyahNya serta beriman kepada Asma dan Sifat-sifatNya. Dan perintah beriman kepada kitab Allah pada ayat ini mengandung perintah untuk beriman kepada segala berita yang datang dari Nabi Shallallahu alaihi wasallam yang shahih termasuk penetapan beliau terhadap asma dan sifat-sifat Allah.

Adapun dalil Aqlynya adalah bahwa Allah Ta’alaa telah mengabarkan kepada kita tentang DzatNya, namaNya dan sifat-sifatNya, dan jelas Allah lebih tahu tentang diriNya dari pada selainNya. Dialah Allah Ta’alaa yang ucapanNya paling benar dan paling baik, maka nama-nama dan sifat-sifatNya yang telah ditetapkanNya harus kita terima tanpa keraguan sedikitpun.

Demikian juga kita wajib menerima tanpa ragu dengan berita yang dibawa oleh Nabi Shallallahu alahi wasallam tentang nama dan sifat Allah ta’alaa jika berita itu shahih dari beliau Shallallahu alahi wasallam, karena beliau adalah manusia yang paling tahu dan paling kenal kepada Allah Jalla Jalaaluh.

Sifat tsubutiyah merupakan sifat terpuji dan sempurna bagi Allah, maka semakin banyak sifat itu maka ia menunjukan akan Maha Sempurnanya yang disifati yaitu Allah ta’alaa. Karenanya sifat tusbutiyah ini lebih banyak Allah dan RasulNya sebutkan dibanding dengan sifat salbiyah.[3]

Sifat Tsubutiyah terbagi kepada dua bagian

a. Sifat Dzatiyah

Sifat dzatiyah adalah sifat yang melekat pada dzat Allah yang senantiasa seperti itu dan tidak akan berubah. Seperti sifat Al-Ilmu, Al-Qudrah, As-Sam’u, Al-Bashar, Al-Izzah, Al-Hikmah, Al-‘Uluw, Al-Azhomah, dan termasuk sifat dzatiyah adalah sifat Khobariyah seperti dua tangan, wajah dua mata dll.

b. Sifat Fi’liyah

            Sifat fi’liyah adalah sifat yang berhubungan dengn kehendak Allah, jika Ia berkehendak maka Ia kerjakan jika tidak maka tidak ia kerjakan. sepertiTurun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, istiwa di atas Arsy, berkata-kata dll.

Terkadang sifat dzatiyah juga sifat fi’liyah seperti sifat Al-Kalam, disatu sisi Allah bersifat kalam tapi disi lain Allah berkata jika Ia berkehendak saja.[4]

Seperti firman Allah dalam Q.S. Yaasin : 82

!$yJ¯RÎ)ÿ¼çnãøBr&!#sŒÎ)yŠ#u‘r&$º«ø‹x©br&tAqà)tƒ¼çms9`ä.ãbqä3uŠsùÇÑËÈ

82. Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” Maka terjadilah ia.

2. Salbiyah

Adapun sifat Salbiyah adalah sifat yang diNafikan Allah untukNya sendiri baik yang disebutkan dalam Al-Qur’an atau yang ditetapkan oleh Nabi Shallallahu alaihi wasallam, semua sifat salbiyah adalah sifat kekurangan yang mustahil dan tidak mungkin ada pada Allah Ta’alaa. Seperti sifat Al-Maut (mati), An-Naum (tidur), Al-Jahl (bodoh), An-Nisyan (lupa) Al-Ajzu (lemah) At-Ta’b (lelah) dll.

Sifat-sifat kelemahan ini wajib ditiadakan pada Allah ta’alaa, bersamaan dengan itu wajib ditetapkan sifat-sifat yang berlawanan dengan sifat salbiyah ini, sehingga lawanan dari sifat salbiyah adalah sifat tsubutiyah dan lawanan dari sifat tsubutiyah adalah sfiat salbiyah.

Contohnya adalah firman Allah Q.S. Al-Furqon : 58

ö@ž2uqs?ur’n?tãÇc‘yÛø9$#“Ï%©!$#ŸwßNqßJtƒ…..ÇÎÑÈ

58. dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati,

Menafikan sifat Al-Maut bagi Allah dalam ayat ini, sekaligus penetapan sifat Allah Al-Hayat yang artinya Allah Maha Hidup.

Atau Q.S.Al-Kahfi : 49

وَلا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَداً

Ayat ini menafikan sifat Az-Zhulm (zhalim) bagi Allah, pada saat yang sama ia menetapkan akan kesempurnaan sifat Al-Adl (Maha Adil) bagi Allah.[5]

Sifat Salbiyah pada umumnya disebutkan untuk menjelaskan beberpa hal, yaitu :

a. Menjelaskan keumuman sifat kesempurnaan Allah ta’alaa

Contoh firman Allah ta’alaa dalam Q.S. Asy-Syuro : 11 dan Q.S. Al-Ikhlas : 4

{لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ} ، {وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدٌ}

Dua sifat salbiyah dalam ayat ini yaitu “al-Mitslu” dan “Al-Kufu” menunjukan akan kesempurnaan Allah bahwa Allah tidak serupa dengan apapun dan tidak ada apapun yang serupa dan sebanding denganNya. Dari dua sifat salbiyah ini juga harus ditetapkan bahwa Allah Maha Esa dan Maha Kuasa dan Maha Mampu melakukan apapun tanpa bantuan makhlukNya.

 

b. Bantahan terhadap anggapan bahwa Allah ta’alaa Allah memiliki anak

Seperti firman Allah ta’alaa Q.S. Maryam : 91 – 92

br&(#öqtãyŠÇ`»uH÷q§=Ï9#V$s!urÇÒÊÈ   $tBurÓÈöt7.^tƒÇ`»uH÷q§=Ï9br&x‹Ï‚­Gtƒ#µ$s!urÇÒËÈ  

91. karena mereka menda’wakan Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak.

92. dan tidak layak bagi Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.

Dalam ayat ini, kaum kuffar menuduh Allah memiliki sifat seperti makhluk yaitu melahirkan anak, dan Allah membantah tuduhan mereka baik dalam ayat ini maupun ayat-ayat lainnya, dan bantahan yang tegas dan lengkap tentang tuduhan ini Allah sampaikan dalam satu surat tersendiri yaitu surat Al-Ikhlas.

Sifat “Yalid” (melahirkan) dan “Yulad” dilahirkan adalah dua sifat Salbiyah atau sifat mustahil bagi Allah.

c. Menolak tuduhan dusta terhadap Allah bahwa Allah memiliki kekurangan dalam kesempurnaanNya pada hal-hal tertentu.

Contohnya dalam firman Allah Q.S. Ad-Dukhan : 38 dan Q.S. Qof : 38

$tBur$oYø)n=yzÏNºuq»yJ¡¡9$#uÚö‘F{$#ur$tBur$yJåks]÷t/šúüÎ6Ïè»s9ÇÌÑÈ

38. dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main.

 

ô‰s)s9ur$oYø)n=yzÏNºuq»yJ¡¡9$#uÚö‘F{$#ur$tBur$yJßguZ÷t/’ÎûÏp­Gř5Q$­ƒr&$tBur$uZ¡¡tB`ÏB5>qäó—9ÇÌÑÈ  

38. dan Sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya

dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan.

 

Dalam dua ayat ini, Allah membantah tuduhan kaum kuffar tentang penciptaan langit dan bumi, tuduhan pertama Allah tidak serius dalam menciptakan langit dan bumi dan menciptakannya dengan main-main.

Dan tuduhan kedua mereka menuduh bahwa Allah letih dan lelah ketika menciptakan langit, bumi dan segala isinya, namun Allah membantah tuduhan mereka dengan menyatakan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi tidak main-main dan Allah tidak merasa letih dan lelah dalam mencitpakan keduanya dan segala isinya. Maha suci dan tinggi Allah dari segala sifat kekurangan.[6]

 

 

 

D. Cara Menetapkan Asma dan Sifat

Seorang mu’min mengimani semua nama dan sifat yang telah ditetapkan Allah Jalla wa ‘Alaa untukNya dan apa saja yang telah ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tanpa tahrif (mengubah), ta’thil (menolak), takyif dan tamsil/tasybih (menyerupai). [7]

Berikut beberapa kaidah penting yang ditetapkan oleh para ulama, terkait nama dan sifat Allah:

1. Mengimani segala nama dan sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Alquran dan sunnah (hadits-hadits sahih).

Artinya, kita tidak membedakan dalam mengimani segala ayat yang ada dalam Alquran, baik itu mengenai hukum, sifat-sifat Allah, berita, ancaman dan lain sebagainya. Sehingga tidaklah tepat jika seseorang kemudian hanya mengimani ayat-ayat hukum karena dapat dicerna oleh akal sedangkan mengenai nama dan sifat Allah, harus diselewengkan maknanya karena tidak sesuai dengan jangkauan akal mereka.

Allah Jalla wa ‘Alaa berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah : 85

tbqãYÏB÷sçGsùr&ÇÙ÷èt7Î/É=»tGÅ3ø9$#šcrãàÿõ3s?ur<Ù÷èt7Î/4$yJsùâä!#t“y_`tBã@yèøÿtƒšÏ9ºsŒöNà6YÏBžwÎ)ӓ÷“Åz’ÎûÍo4quŠysø9$#$u‹÷R‘‰9$#(tPöqtƒurÏpyJ»uŠÉ)ø9$#tbr–Štãƒ#’n<Î)Ïd‰x©r&É>#x‹yèø9$#3$tBurª!$#@@Ïÿ»tóÎ/$£Jtãtbqè=yJ÷ès?ÇÑÎÈ  

“… Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (Qs. Al-Baqarah: 85)

Begitu pula dalam mengimani hadits-hadits yang sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hendaknya kita tidak membedakan apakah itu hadits mutawatir ataupun hadits ahad, karena jika itu sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ia wajib diimani walaupun akal kita tidak dapat memahaminya.

 

“Dari Ubaidillah bin Abi Rafi’ dari ayahnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لَا أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ مُتَّكِئًا عَلَى أَرِيكَتِهِ، يَأْتِيهِ الْأَمْرُ مِمَّا أَمَرْتُ بِهِ، أَوْ نَهَيْتُ عَنْهُ، فَيَقُولُ: لَا أَدْرِي، مَا وَجَدْنَا فِي كِتَابِ اللَّهِ اتَّبَعْنَاهُ “

“Segera saja ada seorang yang duduk di atas sofanya lalu disampaikan kepadanya sebuah hadits dariku baik sesuatu yang aku perintahkan atau sesuatu yang aku larang maka ia berkata, ‘Kami tidak tahu, kami hanya mengikuti apa yang kami dapatkan dalam kitab Allah.’” (HR. Ibnu Majah dishahihkan oleh Al Albani)[8]

2. Menyucikan Allah dari menyerupai makhluk dalam segala sifat-sifat-Nya.

Ketika kita mengakui segala nama dan sifat yang Allah tetapkan, seperti Allah maha melihat, Allah tertawa, betis Allah, tangan Allah, maka kita tidak diperbolehkan menerupakan sifat-sifat tersebut dengan sifat makhluk.

Sayangnya, hal inilah yang sering terjadi pada sekelompok orang, dan hal ini pulalah yang memicu penyimpangan yang terjadi pada tauhid asma wa shifat. Kesalahan yang berbuah kesalahan.

3. Menutup keinginan untuk mengetahui bentuk hakikat sifat-sifat Allah Ta’alaa.[9]

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, bahwa salah satu bentuk penyimpangan dalam tauhid asma wa shifat adalah menanyakan bagaimana bentuk dan hakikat sifat-sifat Allah. Dan hal ini tidak mungkin dapat kita ketahui karena Allah dan Rasul-Nya tidak menjelaskan hal tersebut. Sebagai contoh, seseorang tidak dapat menanyakan kaifiat (bagaimananya) sifat tertawa Allah, atau bentuk tangan Allah, atau bagaimanakah wajah Allah.

Yang perlu kita imani adalah Allah memiliki sifat yang bermacam-macam dan Allah maha sempurna dengan segala sifat yang dimiliki-Nya.Dan untuk mengimani sesuatu tidaklah mengharuskan kita harus mengetahui hakikat zat tersebut.

 

Termasuk larangan dalam hal ini adalah membayangkan bagaimana bentuk dan hakikat sifat Allah, karena akan membuka pada penyimpangan lainnya, yaitu penyerupaan dengan makhluk. Yang perlu diluruskan adalah, larangan untuk mengetahui bentuk dan hakikat dari sifat-sifat Allah bukan berarti meniadakan adanya bentuk dan hakikat dari sifat-sifat Allah. hakikat sifat Allah tetaplah ada dan hanya Allah-lah yang mengetahuinya.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Al-Qur’an Al-Majid
  2. Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, Tahqiq : Muhammad Fuad Abdul Baqi, Peneribit : Daar Ihya al-Kutub Al-Arabiyah, Aleppo, Suriah, t.t.
  3. Muhammad bin Khalifah bin Ali At-Tamimi, Mu’taqidu Ahlissunnah wal jama’ah fi al-asma al-husna, Penerbit : Adhwa; as-Salaf, Riyadh Saudi Arabia, cet. I, th. 1419 H
  4. Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Al-Qawa’id Al-Mutsla fii sifatillah wa asmaihi al husna, Penerbit : Jami’ah Al-Islamiyah, Madinah Al-Munjawwaroh, Cet. III, th. 1421 H
  5. Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Syarh Tsalatsah Al-Ushul, Penerbit : Daar as-Syria li An-Nasyr, cet. IV, th. 1424 H.
  6. Sa’ad bin Abdurrahman Niddan, Mafhum Al-Asma wa Shifat, Penerbit : Majalah Jami’ah Al-Islamiyah, Madinah Munawwaroh, t.t.
  7. Utsman Jum’ah Dhamiriyah, Madkhal Lidirosat Al-Aqidah Al-Islamiyah, Penerbit : Maktabah as-sawadie li at-tauzi’, Jeddah, Saudi Arabia, cet. II, th. 1417 H.

 

 

 

 

DAFTAR ISI

Tauhid Asma Wa Sifat1

A. Pendahuluan. 1

B. Pengertian Tauhid Asma Wa Sifat. 1

Pengertian Asma dan Sifat Allah. 1

Pengertian Tauhid Asma wa Sifat2

C. Pembagian Asma wa Shifat Allah Jalla wa ‘Alaa. 3

1. Tsubutiyah. 3

a. Sifat Dzatiyah. 4

b. Sifat Fi’liyah. 4

2. Salbiyah. 5

a. Menjelaskan keumuman sifat kesempurnaan Allah ta’alaa. 5

b. Bantahan terhadap anggapan bahwa Allah ta’alaa Allah memiliki anak. 6

c. Menolak tuduhan dusta terhadap Allah bahwa Allah memiliki kekurangan dalam kesempurnaanNya pada hal-hal tertentu.6

D. Cara Menetapkan Asma dan Sifat. 7

1. Mengimani segala nama dan sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Alquran dan sunnah (hadits-hadits sahih).7

2. Menyucikan Allah dari menyerupai makhluk dalam segala sifat-sifat-Nya.8

3. Menutup keinginan untuk mengetahui bentuk hakikat sifat-sifat Allah Ta’alaa.8

DAFTAR PUSTAKA.. 9

 

 

 

[1] Sa’ad bin Abdurrahman Niddan, Mafhum Al-Asma wa Shifat, juz 45, h. 79

[2] Muhammad bin Khlaifah At-Tamimi, Mu’taqidu Ahlissunnah wal jama’ah fi al-asma al-husna, juz 1, h. 29

[3] Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Al-Qawa’id Al-Mutsla fii sifatillah wa asmaihi al husna, juz 1, h. 21-23

[4] Ibid, juz 1, h. 25

[5] Ibnu Utsaimin, Al-Qawa’id Al-Mutsla, juz 1, h. 23

[6] Ibnu Utsaimin, Al-Qawa’id Al-Mutsla, juz 1, h. 23

[7] Utsman Jum’ah Dhamiriyah, Madkhal Lidirosat Al-Aqidah Al-Islamiyah, h. 240

[8] Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, Juz. 1, h. 6, no. 13

[9] Muhammad bin Khalifah at-Tamimi, Mu’taqidu Ahli sunnah, juz 1, h. 71

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hakikat Wahyu

Hakikat Wahyu.

Semakin lama manusia semakin cerdas. diiringi pesatnya teknologi, perkembangan ilmu, kemampuan mengeskplorasi bumi, laut dan langit. Semuanya itu membantu menyapu keraguan manusia akan hakikat wahyu. Bagi manusia yang berpikir, eksistensi dunia gaib tak ubahnya dunia nyata. bedanya eksplorasi dan pemahaman kita akan dunia gaib ini begitu lambatnya disbanding dengan yang telah kita capai pada dimensi nyata. Hipnotis kini adalah hal lumrah, yang mana orang berkemauan lebih kuat dapat memaksakan kemauannya kepada orang yang lebih lemah, hingga si lemah tertidur dan ia dikemudikan secara mudahnya oleh kehendak orang yang menghipnotisnya. ini terjadi antara manusia, nah bayangkan begitu mudahnya hal serupa terjadi antara Tuhan dengan mahluknya.Telepon, televisi dan segala jenis alat komunikasi menjadi terealisir dengan pemahaman manusia akan gelombang eter, frekwensi, satelit dsb. Komunikasi dua orang yang terpisah laut dan gunung dapat berjalan sedemikan lancarnya. apabila fakta ini menjadi biasa, maka komunikasi antara Tuhan dan Nabinya jadi mudah dicerna dan diakui adanya. Rasulullah SAW bukanlah manusia pertama yang mendapatkan wahyu, Allah telah melakukan hal serupa kepada Rasul‐rasul sebelum beliau SAW,

Alloh SWt. Berfirman : “Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabinabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. dan Kami berikan Zabur kepada Daud. dan (kami telah mengutus) Rasulrasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan Rasulrasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung“. (QS An‐Nisa’ [4] ; 163‐164)

 

Pengertian Wahyu

Menurut bahasa wahyu dapat berarti :

1. Ilham (Fitrah) bagi manusia seperti wahyu kepada ibunya musa. (Al-Qosos : 7 )

2. Ilham (Instink) bagi hewan seperti wahyu kepada lebah. ( An-Nahl : 68 )

3. Isyarat yang cepat, seperti yang di alami Nabi Zakaria. ( Maryam : 11 )

4. Bisikan dan godaan syetan ( Al-An’am : 112, 121 )

5. Sesuatu ( Perintah kepada para malaikat ). ( Al-Anfal : 12 )

 

Sedangkan wahyu menurut istilah adalah Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabinya. Syeikh Muhammad Abduh dalam risalah tauhidnya, mendefinisikan wahyu dengan : “Pengetahuan yang didapat seseorang dengan penuh keyakinan bahwa itu datang dari Allah baik dengan atau tanpa perantara.”

Ulama berpendapat tentang bagaimana malaikat jibril mendapat wahyu dari Allah berupa Al-Qur’an :

1. Jibril mendapatkannya dengan cara mendengar dari Allah dengan lafadz yang khusus

2. Jibril menghafalnya dari Lauhil Mahfuz

3. Jibril mendapatkan maknanya dan lafaznya dari jibril sendiri atau dari Muhammad SAW.

Al‐Wahyu adalah kata dalam bahasa arab yang artinya tersembunyi dan cepat. atas dasar ini para ulama secara bahasa mendifinisikan wahyu sebagai ” Apa yang dibisikkan ke dalam sukma, yang diilhamkan, dan merupakan isyarat yang cepat yang lebih mirip pada sesuatu yang dirahasiakan daripada dilahirkan; sesuatu yang dituangkan dengan cara cepat dari Allah SWT ke dalam dada para nabi‐Nya. Wahyu merupakan kebenaran yang langsung disampaikan Allah SWT kepada para nabi‐Nya.”

Allah SWT telah menerangkan dalam Alquran cara memberitahukan para nabi‐Nya mengenai apa yang dikehendaki‐Nya, dengan firman‐Nya: “Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkatakata dengan dia kecuali dengan perantaraan Wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizinNya apa yang Dia kehendaki…” (QS.42:51

Allah SWT telah menerangkan dalam Alquran cara memberitahukan para nabi‐Nya mengenai apa yang dikehendaki‐Nya, dengan firman‐Nya: “Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkatakata dengan dia kecuali dengan perantaraan Wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizinNya apa yang Dia kehendaki…” (QS.42:51).).

Dari kandungan ayat tersebut dapat dipahami bahwa Allah SWT menurunkan wahyu‐Nya kepada nabi dan rasul dengan tiga cara :

1. Allah SWT memberi pengetahuan dengan tidak memakai perantaraan. Pengetahuan itu tiba‐tiba dirasakan seseorang dan timbul dalam dirinya secara tiba‐tiba sebagai suatu cahaya yang menerangi jiwanya. Mimpi nabi yang benar (sadiqah) termasuk dalam bagian ini. Wahyu yang seperti ini telah diterima Nabi Ibrahim AS, yaitu tentang perintah Allah SWT untuk menyembelih anaknya, Ismail AS. Hal ini juga terjadi pada diri Nabi Muhammad SAW di masa permulaan turunnya wahyu.

2. Memperdengarkan suara dari belakang tabir dan nabi mendengar wahyu dari belakang tabir itu. Hal ini diperoleh Nabi Musa AS di Bukit Tursina (Gunung Sinai) dan Nabi Muhammad SAW ketika melakukan isra mi’raj.

3. Mengutus Malaikat Jibril (sebagai pembawa wahyu), yang disebut dalam Alquran sebagai ar‐Ruh al‐Amin atau Rohul Kudus. Dalam surah asy‐Syu’ara ayat 192‐195 Allah SWT berfirman yang artinya:

Dan sesungguhnya Alquran ini benarbenar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Dia dibawa turun oleh arRuh alAmin (Jibril); ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orangorang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.”

Malaikat Jibril kadangkala mendatangi Muhammad SAW dengan menyerupai seorang laki‐laki yang tampan. Di saat lain Jibril memperlihatkan dirinya dalam bentuk yang asli, yang memiliki enam ratus sayap. Tak ragu lagi Alquran memang menjadi fokus perhatian para Sahabat, Tabiin dan generasi sesudahnya. Ini terbukti dari hasil penelitian mereka berkenaan dengan Alquran. Hasil kajian mereka memang menjadi pilar‐pilar penting yang jadi acuan kaum muslimin yang peduli terhadap interaksi dengan Alquran karena kesadaran bahwa kalam Allah adalah cahaya benderang petunjuk dan penuntun jalan kehidupan ini.

 

Posted in AL-QUR'AN | Leave a comment

PENYIMPANGAN DARI AQIDAH SHAHIHAH

PENYIMPANGAN DARI AQIDAH SHAHIHAH

Penyimpangan dari aqidah yang benar adalah sumber kehancuran dan kesesatan. Karena aqidah yang benar merupakan motivator utama bagi amal yang bermanfaat. Tanpa aqidah yang benar manusia akan seperti hewan, bahkan lebih sesat dan lebih buruk dari binatang. Oleh karenanya kekuatan aqidah harus selalu beriringan dengan kekuatan madiah (materi), karena jika kekuatan madiah lebih kuat dari kekuatan aqidah, ia akan menjadi perusak dan penghancur manusia.

1. Macam-Macam Penyimpangan Aqidah

a. Khurofat dan Takhhayyul Yaitu keyakinan terhadap kepercayaan-kepercayaan nenek moyang yang tidak berdasar sama sekali. Contoh-contoh khurafat dan takhayyul di masyarakat.:

– Jika memandikan kucing di hari jum’at akan turun hujan

– Kupu-kupu masuk rumah pertanda akan datang tamu

– Dillarang main kunang-kunang karena ia merupakan jelmaan kuku setan – Jika menabrak kucing sampai mati maka harus di kubur dengan dibungkus baju penabraknya, karena jika tidak rizkinya akan sulit

– Dll.

b. Percaya kepada dukun, peramal, ramalan bintang dan para normal

c. Tersebarnya Bid’ah Bid’ah menurut bahasa artinya sesuatu yang diadakan tanpa ada contoh yang mendahuluinya.

Sedangkan bid’ah menurut islam adalah amal-amal yang tidak ada dasarnya baik dalam Al-Qur’n maupun Al-Hadits dan ijma ulama.

Bid’ah terbagi kepada 2 macam

1. Bid’ah yang tejadi pada adat/kebiasaan seperti penemuan-penemuan duniawi atau penciptaan teknologi dsb. maka hukumnya adalah boleh kecuali ada dalil yang melarangnya.

2. Bid’ah dalam urusan agama Yaitu melakukan amalan-amalan agama yang tidak ada dasarnya dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits maka hukumnya HARAM

Penyimpangan-penyimpangan ini tidak terjadi begitu saja, tapi tentunya ada sebab-sebab yang mendasarinya. Sebab-sebab penyimpangan itu antara lain :

1. Kebodohan terhadap aqidah yang benar Kebodohan terhadap aqidah yang benar diakibatkan kemalasan dan ke engganan untuk mempelajari dan mengajarkan Aqidah yang benar.

2. Ta’ashub (Fanatisme) Fanatik terhadap ajaran yang diwarisi nenek moyang sekalipun tidak berdasar sama sekali adalah sebab penting terjadinya penyimpangan-penyimpangan aqidah.

3. Taqlid Buta Yaitu mengambil pendapat yang disampaikan orang lain tanpa meneliti sumber pengambilan pendapat itu. Sehingga apapun yang dikatakannya di anggap benar walau bertentangan dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits yang shahih.

4. Ghuluw (berlebihan) Yaitu berlebihan dalam mencintai dan menghormati para wali, ulama, serta orang-orang shalih. Mereka menganggap bahwa para wali, ulama, habib, atau orang shalih lainnya adalah suci yang tidak mungkin salah, sehingga memberikan sifat yang tidak seharusnya diberikan kepada mereka. Bahkan puncak kesesatan mereka adalah menjadikan kubur-kubur para wali sebagai masjid dan tempat mencari berkah serta meminta segala sesuati kepada wali yang sudah meninggal.

5. Ghoflah (lalai) Lalai dalam mengingat Allah, lalai dalam memperhatikan ayat-ayat Allah baik yang tersurat (Quliyah) yaitu Al-qur’an maupun yang tersirat (Kauniyah) yaitu alam raya. Dismping itu zaman sekarang ini banyak orang sangat menngagungkan teknologi, hingga merasa bahwa semua itu adalah hasil usaha manusia saja tanpa dan melupakan qudrat dan irodat Allah di alam raya ini.

6. Rumah Tangga Yang Kosong Dari Aqidah Ketika rumah-rumah kaum muslimin banyak diisi dengan musik, lagu dan nyanyian yang mendayu-dayu hingga melenakan hati dari mengingat Alah. Maka dapat dipastikan para penghuninya akan mengalami kekeringan ruhiyahnya, dan gersang kehidupannya. Keimanan, aqidah dan amal islami tak lagi diajarkan sejak dini, anak-anak lebih banyak mendapatkan pelajaran dari TV padahal banyak tayangan yang tidak cocok baginya. Dari rumah seperti inilah akan muncul manusia-manusia tak ubahnya bianatang yang hanya memperturutkan hawa nafsunya, bahkan lebih buruk lagi.

7. Perusakan Media Massa Media massa yang nota bene dikuasai kaum kuffar jelas menjadi sarana vital dalam penghancuran aqidah yang benar. Tayangan televisi, berita di surta kabar selalu menampilkan gaya hidup hedonis (serba boleh), materialistik, pornoaksi dan pornografi. Belim lagi para artis idola anak-anak yang berkelakuan layaknya bianatang, tanpa malu-malu mempertontonkan aurat dan berzina di depan umum. Maka bukan hal yang aneh lagi, jika banyak anak-anak muda islam lebih menyukai musik dari pada Al-Qur’an, lebih menyukai lagu-lagu daripada senandung do’a hingga pada akhirnya generasi islam bagaian buih dilautan banyak namun tak berarti banyak.

8. Tidak Mendukungnya Dunia Pendidikan Kurikulum yang ada disekolah-sekolah hanya mengalokasikan 2 jam perminggu itupun mencakup seluruh materi yang terkait agama.

Penyimpangan-penyimpangan itu dapat di tanggulangi dengan :

1. Kembali kepadaAl-Qur’an dan Al-Hadits yang shahih sebagai sumber aqidah

2. Memberi perhatian pada pengajaranaqidah islamiyah disekolah

3. memilih buku-buku yang bersih dari kesesatan danpenyimpangan aqidah

4. Menghidupkan bacaan Al-Qur’an dirumah-rumah muslim dan membiasakan amal islami antar anggota keluarga.

Posted in AQIDAH | Leave a comment

PENYIMPANGAN DARI AQIDAH SHAHIHAH

PENYIMPANGAN DARI AQIDAH  SHAHIHAH

Penyimpangan dari aqidah yang benar adalah sumber kehancuran dan kesesatan. Karena aqidah yang benar merupakan motivator utama bagi amal yang bermanfaat. Tanpa aqidah yang benar manusia akan seperti hewan, bahkan lebih sesat dan lebih buruk dari binatang.

Oleh karenanya kekuatan aqidah harus selalu beriringan dengan kekuatan madiah (materi), karena jika kekuatan madiah lebih kuat dari kekuatan aqidah, ia akan menjadi perusak dan penghancur manusia.

1. Macam-Macam Penyimpangan Aqidah

a. Khurofat dan Takhhayyul

Yaitu keyakinan terhadap kepercayaan-kepercayaan nenek moyang yang tidak berdasar sama sekali.

Contoh-contoh khurafat dan takhayyul di masyarakat.:

– Jika memandikan kucing di hari jum’at akan turun hujan

– Kupu-kupu masuk rumah pertanda akan datang tamu

– Dillarang main kunang-kunang karena ia merupakan jelmaan kuku setan

– Jika menabrak kucing sampai mati maka harus di kubur dengan dibungkus baju penabraknya, karena jika tidak rizkinya akan sulit

– Dll.

b. Percaya kepada dukun, peramal, ramalan bintang dan para normal

c. Tersebarnya Bid’ah

Bid’ah menurut bahasa artinya sesuatu yang diadakan tanpa ada contoh yang mendahuluinya. Sedangkan bid’ah menurut islam adalah amal-amal yang tidak ada dasarnya baik dalam Al-Qur’n maupun Al-Hadits dan ijma ulama.

Bid’ah terbagi kepada 2 macam

1. Bid’ah yang tejadi pada adat/kebiasaan

seperti penemuan-penemuan duniawi atau penciptaan teknologi dsb. maka hukumnya adalah boleh kecuali ada dalil yang melarangnya.

2. Bid’ah dalam urusan agama

Yaitu melakukan amalan-amalan agama yang tidak ada dasarnya dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits maka hukumnya HARAM

 

Posted in AQIDAH | Leave a comment

AQIDAH ISLAMIYAH

AQIDAH

PENGERTIAN AQIDAH

Aqidah menurut bahasa diambil dari kata    عقد – يعقد – عقدة – عقيدة    artinya ikatan yang kuat.

 

Aqidah menurut istilah adalah segala sesuatu yang wajib dibenarkan oleh hati, menjadi keyakinan dan menentramkan jiwa dan tidak boleh tercampur dengan keraguan dan kebimbangan. (Hasan Al-Banna)

Menurut Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan Bahwa yang di maksud adalah percaya dan yakin kepada rukun iman.  Jadi yang menjadi pokok-pokok aqidah adalah rukun iman.

B. URGENSI AQIDAH

Aqidah yang shahihah (benar) menjadi sangat penting karena :

1. Menjadi dasar dan pondasi penegakan agama Islam

2. Menjadi dasar sah atau tidaknya amal seseorang dan diterima atau di tolak ibadahnya.

3. Awal da’wah para nabi dan Rasul

Kalimat اعبدوا الله yang terdapat dalam ayat 36 surat an-Nahl adalah kalimat

yang di ucapkan oleh nabi Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib dan para Nabi lainnya. Dan Nabi Muhammad SAW. Mengajak umatnya untuk beraqidah yang benar dan bertauhid dilakukannya selama 13 tahun, yaitu selama beliau tinggal di Mekkah.

C. SUMBER-SUMBER AQIDAH SHAHIHAH

Aqidah adalah tauqifiyah, artinya aqidah islamiyah itu harus ditetapkan dengan dalil-dalil syar’i baik Al-Qur’an maupun Hadits yang shahih. Dengan demikian hanya Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih sajalah yang dapat dijadikan sebagai sumber aqidah islamiyah. Pendapat-pendapat dari siapapun datangnnya yang tidak berdasarkan Al-Qur’an atau hadits yang shahih tidak dapat dijadikan sebagai landasan untuk diambil sebagai aqidah islamiyah.

Maka apapun yang ditunjukan oleh Al-Qur’an dan Al-Hadits yang shahih, wajib untuk di imani dan diamalkan. Sedangkan yang tidak di tunjukan oleh Al-Qur’an dan hadits shahih maka wajib pula untuk di tolak dan tidak diterima sebagai aqidah.

D. NAMA-NAMA LAIN AQIDAH ISLAMIYAH

Sebutan untuk hal-hal yang berkaitan dengan keyakinan dan keimanan tidak hanya menggunakan kata Al-Aqidah, seiring berjalannya waktu istilah-istilah untuk aqidahpun bermunculan, namun tetap dengan pembahasan yang sama. Nama-nama itu antara lain :

1. Al-Fiqhul Akbar (Faham yang Besar)

Istilah Fiqhul Akbar pertama kali dipakai oleh pendiri madzhab Hanafiyah, yaitu Imam Hanafi yang nama lengkapnya adalah Nu’man bin Tsabit.  Istilah ini kemudian di populerkan juga olh pediri madzhab Syafi’iyah, yaitu Imam syafi’I yang bernama lengkap Muhammad bin Idris Asy’Syafi’i.

2. Al-Iman (Keimanan)

Istilah ini banyak di pakai oleh para ulama yagn hidup pada abad ke 3 Hijriyah. Diantaranya :

Abu Ubaid Al-Qosim bin Salam Al-Bahgdhadi

Imam Ibnu Taimiyah

3. As-Sunnah

Istilah As-Sunnah untuk nama lain aqidah dipakai dimasa Ahmad bin Hambal, pendiri madzhab Hambali, karena saat itu faham mu’tazilah yang anti sunnah merajalela.

4. Ilmu Tauhid (ilmu yang membahas Keesaan Allah)

5. Asy-Syari’ah (syari’at/undang-undang Islam)

6. Ushuluddin (Pokok-pokok Agama)

7. At-Tashowwur Al-Islami (Perkembangan Islam)

 

Posted in AQIDAH | Leave a comment